Merasa Ditipu Cyrptocurrency, Penulis The Black Swan Sebut Bitcoin Sama dengan Skema Ponzi

Penulis The Black Swan Sebut Bitcoin

Share :

Kanalcoin.com –  Penulis novel “The Black Swan” yang sangat terkenal di dunia, Nassim Nicholas Taleb, menyebut kalau bitcoin sama dengan skema Ponzi. Pernyataan itu disampaikan oleh Taleb usai merasa ditipu cryptocurrency.

Pernyataan tersebut disampaikan Taleb pada sebuah wawancara dengan CNBC yang dikutip Kanalcoin.com, Jumat (23/4/2021), yang membahas seputar cara melindungi nilai risiko terhadap pasar yang bergejolak saat ini.

Dalam wawancara itu, Taleb menyarankan kepada para investor untuk menghindari bitcoin dalam usaha melindungi nilai portofolio dari inflasi. Taleb sendiri sebenarnya merupakan ahli statistik, matematikawan, mantan pedagang opsi, analis risiko, dan saat ini menjadi penasihat hedge fund.

Dalam wawancara tersebut, Taleb sempat ditanya tentang cryptocurrency, terutama bitcoin. Hal itu dikarenakan para investor mulai membangun portofolio dengan bitcoin untuk melindungi diri dari inflasi.

Taleb menyampaikan kalau sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali antara inflasi dan bitcoin seperti yang diketahui orang-orang saat ini.

“Pada dasarnya, tidak ada hubungan antara inflasi dan bitcoin” kata Taleb dalam wawancara tersebut.

Tak hanya menyampaikan hubungan antara bitcoin dan inflasi, Taleb bahkan terang-terangan menyebut kalau bitcoin memiliki karakteristik yang sama dengan skema Ponzi terbuka.

“Bitcoin memiliki karakteristik skema Ponzi terbuka. Semua orang tahu itu Ponzi,” tegasnya yang dilansir Kanalcoin.com dari kutipan News.Bitcoin.com.

Awalnya, Taleb merupakan pendukung bitcoin yang percaya kalau bitcoin dapat digunakan sebagai mata uang. Namun, Taleb mengatakan kepada CNBC bahwa dia merasa dibodohi pada awalnya.

Pria keturunan Amerika-Lebanon itu berpikir kalau bitcoin bisa berkembang menjadi mata uang yang digunakan dalam transaksi. Akan tetapi, harga bitcoin selama ini naik-turun sangat tidak pasti. Ditambah lagi, investor menggunakan cryptocurrency sebagai sarana spekulasi.

Kondisi tersebut membuat Taleb menjual seluruh bitcoin miliknya dan menjadi tidak yakin kalau bitcoin bisa menjadi mata uang. Malahan, Taleb menyebut kalau bitcoin menjadi mata uang yang gagal.

“Sesuatu yang bergerak 5% sehari, 20% dalam sebulan, naik atau turun, tidak bisa menjadi mata uang. Itu sesuatu yang lain,” ujar Taleb menambahkan.

Dalam kesimpulan wawancara Jumat itu tentang cara melindungi nilai risiko di pasar saat ini, Taleb menyarankan kepada investor untuk menghindari bitcoin dan membeli saham yang lebih stabil.

“Hindari bitcoin. Beli saham yang stabil dan belilah hal-hal yang Anda pahami,” ucap Taleb.

“Jika Anda ingin melindungi diri dari inflasi, belilah sebidang tanah. Tanamlah, saya tidak tahu, buah zaitun di atasnya. Anda akan mendapatkan minyak zaitun. Jika harga anjlok, Anda akan mendapatkan sesuatu.”

“Sementara bitcoin, tidak ada koneksi dan, tentu saja, strategi terbaik bagi investor adalah memiliki hal-hal yang menghasilkan imbal hasil di masa depan. Dengan kata lain, Anda dapat mengandalkan dolar nyata yang keluar dari perusahaan,” tutur Taleb mengakhiri wawancara tersebut.

Pendapat Taleb mengenai bitcoin dan inflasi tersebut rupanya tidak didukung oleh seluruh pihak. Bank Investasi Goldman Sachs sebelumnya sempat mengatakan bitcoin adalah lindung nilai dari inflasi ritel pada Desember lalu. Bahkan, Goldman Sachs mencatat bahwa bitcoin menggantikan emas sebagai lindung nilai dari inflasi pilihan.

Selain Goldman Sachs, perusahaan manajemen investasi asal Inggris, Ruffer, juga menjelaskan kalau bitcoin bisa bertindak sebagai lindung nilai terhadap beberapa risiko moneter, inflasi, dan kondisi pasar lainnya.

(*)

Muhammad Zaki Fajrul Haq
Author: Muhammad Zaki Fajrul Haq

Follow me at @mzfajrulhaq (Instagram) or @ZakiFajrul (Twitter).

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments