Federal Reserve Bank AS Ingin Tingkatkan Inflasi, Investor Mulai Lirik Bitcoin

Federal Reserve Bank AS Ingin Tingkatkan Inflasi

Share :

Federal Reserve Amerika Serikat dikabarkan ingin menaikkan tingkat inflasi hingga taraf tertentu. Hal tersebut dilakukan seiringan dengan menurunnya nilai dolar Amerika Serikat dan melonjaknya harga emas. Kebijakan itu pun berpengaruh kepada berbagai pihak, termasuk investor.

Federal Reserve Amerika Serikat atau yang sering disebut Fed telah selesai melakukan peninjauan ulang kebijakan selama setahun. Fed mendapati bahwa mereka perlu menaikkan tingkat inflasi hingga tataran tertentu untuk mengatasi masalah yang ada.

Saat ini, kondisi mata uang dolar Amerika Serikat menjadi anjlok sangat tajam di tengah melonjaknya harga emas dan peningkatan permintaan untuk Treasury Inflation-Protected (TIPS). Akan tetapi, Fed dikabarkan berencana untuk tetap menjaga tingkat suku bunga.

Sebelum target inflasi dan tingkat pengangguran tercapai, Fed akan tetap menjaga tingkat suku bunga pada angka yang rendah. Fed baru akan menaikkan suku bunga jika target inflasi dan tingkat pengangguran sudah tercapai.

Sejalan dengan kebijakan Fed Pusat, Presiden Federal Reserve Bank Chicago, Charles L. Evans, menyampaikan bahwa dirinya akan mempertahankan tingkat suku bunga sebelum inflasi mencapai angka 2,5 persen.

Namun, hal tersebut bukan sesuatu yang dapat diraih dengan mudah. Setidaknya, butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai angka tersebut. Hal itu dikarenakan tingkat inflasi saat ini baru mau mendekati 1 persen dan tingkat pengangguran bahkan lebih tinggi dibandingkan saat depresi besar-besaran di Amerika Serikat.

Sejak kondisi ekonomi Amerika Serikat mulai terpuruk dan nilai dolar Amerika Serikat anjlok, beberapa investor mulai melirik cara baru dalam menjaga dana mereka. Salah satunya adalah dengan memindahkan investasi mereka pada aset alternatif, termasuk bitcoin.

CEO Microstrategy Inc., Michael Saylor, menyampaikan bahwa perusahaannya kemungkinan akan mengubah strategi keuangan terkait investasi perusahaan. Dengan melemahnya dolar Amerika Serikat, Saylor sepertinya tidak akan menanamkan modalnya dalam bentuk dolar.

“Jika Anda memiliki uang dolar dalam jumlah besar dan Anda mengharapkan pengembalian dalam bentuk apa pun, itu salah. Emas, perak, dan bitcoin kini menunjukkan peningkatan,” ucap Saylor seperti dilansir dari News Bitcoin.

“Dolar, indeks DXY melemah. Keyakinan pada mata uang fiat di seluruh pasar memudar dan kami telah melihatnya dalam reli di sebagian besar kelas aset selama kuartal kedua.”

“Oleh karena itu, tidak bijaksana untuk terus memegang sebagian besar USD sebagai strategi keuangan kami, dan itu mendorong kami untuk memikirkan kembali hal ini,” kata Saylor melanjutkan.

CFO Microstrategy, Phong Le, juga menyampaikan hal yang sama dengan Saylor. Bahkan, Le mengaku bahwa perusahaannya akan menginvestasikan hingga 250 juta dolar Amerika (sekitar Rp 3,7 triliun) Serikat ke aset lain, termasuk aset alternatif.

“Kami akan berusaha menginvestasikan hingga 250 juta dolar Amerika Serikat lagi selama 12 bulan ke depan dalam satu atau lebih investasi atau aset alternatif yang mungkin termasuk saham, obligasi, komoditas seperti emas, aset digital seperti bitcoin, atau jenis aset lainnya,” tutur Le.

(*)

Redaksi-Kanalcoin
Author: Redaksi-Kanalcoin

Cryptocurrency Media

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments