Apa itu Hard Fork: Kunci Kelangsungan Hidup Blockchain

Apa itu Hardfork

Share :

Apa itu Hard Fork? Kamu pernah memperbarui aplikasi di smartphone-mu, bukan? Proses pembaruan aplikasi di smartphone memang sangat diperlukan untuk memperbarui bug atau berbagai ketentuan lain. Dalam blockchain, hal ini disebut dengan hard fork.

Lantas, apa itu hard fork? Apa kesamaan konsep hard fork dengan proses pembaruan aplikasi di smartphone? Artikel ini akan sedikit menjelaskan kepada soal itu. Berikut ulasannya buat kamu.

Apa Itu Fork?

Seperti halnya proses pembaruan perangkat lunak di smartphone, fork merupakan proses pembaruan jaringan blockchain yang juga terjadi karena alasan-alasan tertentu. Biasanya, perangkat lunak yang diperbarui akan disalin dan dimodifikasi untuk membentuk perangkat lunak yang baru.

Dalam proses fork proyek lama yang disalin dan dimodifikasi akan tetap digunakan, sementara proyek baru akan hidup dan berjalan dengan aturan baru yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Seperti contoh ketika dua klub sepak bola Liverpool dan Everton berpisah. Sebelumnya, hanya ada klub sepak bola Everton di kota Merseyside, Inggris. Seiring berjalannya waktu, ada perbedaan pendapat yang membuat para petingginya harus mengambil jalan masing-masing.

Alhasil, terbentuklah klub sepak bola yang baru bernama Liverpool FC. Kedua klub sepak bola tersebut sampai saat ini masih sama-sama berjalan. Tentunya, keduanya memiliki aturan dan ketentuan yang berbeda sesuai dengan yang telah mereka sepakati masing-masing.

Hal itu juga terjadi di dunia blockchain. Bahkan, beberapa kali fenomena fork sudah terjadi pada Bitcoin dan Ethereum yang merupakan dua jaringan mata uang kripto paling populer di dunia saat ini. Fork sendiri terdiri dari dua jenis, yakni hard fork dan soft fork.

Apa Itu Hard Fork?

Hard fork merupakan proses pembaruan perangkat lunak yang dilakukan kepada jaringan blockchain lama karena dituding sudah tidak kompatibel. Istilah lainnya adalah backward-incompatible.

Kondisi tersebut biasanya akan terjadi ketika sebuah node dalam jaringan blockchain yang lama menambahkan aturan baru yang ternyata bertentangan dengan aturan node yang lama. Hal ini akan membuat keduanya berpisah karena sudah tidak bisa berhubungan sama sekali.

Node baru yang terbentuk hanya akan bisa berhubungan dengan node lain yang juga menggunakan aturan versi baru. Sementara itu, node yang lama juga hanya bisa berhubungan dengan node lain yang juga menggunakan aturan versi lama.

Dengan demikian, jaringan blockchain akan terbelah menjadi dua dan menciptakan dua jaringan yang terpisah. Namun, keduanya akan terus berjalan dan melakukan transaksi mereka masing-masing. Hanya saja, kini keduanya sudah tidak berada di jaringan yang sama.

Contoh Hard Fork di Dunia Blockchain

Ada beberapa contoh hard fork yang pernah terjadi di dunia blockchain sampai saat ini. Paling banyak, hard fork terjadi pada jaringan bitcoin dan ethereum. Berikut beberapa contoh kasus hard fork yang pernah terjadi:

1. Ethereum Classic

Ethereum pernah mengalami hard fork  dan membentuk jaringan baru yang bernama Ethereum Classic. Para pengguna Ethereum pun akhirnya tak mampu mengirimkan ether ke jaringan Ethereum Classic. Begitu juga sebaliknya.

2. BTC1

Kasus hard fork pertama di jaringan bitcoin adalah munculnya BTC1. BTC1 dimunculkan sebagai jaringan baru dengan nama Segwit2x. Pembuat jaringan ini bermaksud agar para pengguna bitcoin mau berpindah ke jaringan ini.

Akan tetapi, rencana tersebut gagal dan para pengguna bitcoin tetap setia. BTC1 pun perlahan mulai hilang dan dianggap tidak berfungsi lagi.

3. Bitcoin ABC

Setelah kegagalan BTC1, muncul lagi jaringan lain bernama Bitcoin ABC. Bitcoin ABC dirancang untuk keluar dari jaringan Bitcoin Core yang menaungi bitcoin pada 2017. Usai keluar dari jaringan Bitcoin Core, Bitcoin ABC mulai menerbitkan token baru bernama Bitcoin Cash.

Rupanya, rilisnya Bitcoin Cash ini disambut dengan baik oleh sebagian orang dan masih bertahan hingga sekarang.

Munculnya Bitcoin Cash ini memicu munculnya hard fork lain, seperti Bitcoin SV, Bitcoin Gold, Bitcoin Diamond, dan masih banyak lagi.

Akhir Kata

Hard fork bisa sangat bermanfaat bagi jaringan blockchain untuk jangka panjang nanti. Hal itu dikarenakan semakin populernya mata uang kripto, akan semakin banyak pula pengguna dan para penambang yang bermunculan.

Jaringan blockchain yang lama pun akan semakin lambat dan biayanya semakin mahal. Oleh karena itu, perlu pembaruan dengan membuat jaringan blockchain baru demi kelangsungan hidup blockchain di masa mendatang.

Namun, pemecahan jaringan blockchain juga bisa menjadi petaka jika para pengembang tidak mau kalah satu sama lain. Alhasil, volatilitas mata uang kripto akan semakin tinggi dan merugikan para penggunanya.

(*)

Muhammad Zaki Fajrul Haq
Author: Muhammad Zaki Fajrul Haq

Follow me at @mzfajrulhaq (Instagram) or @ZakiFajrul (Twitter).

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments